UX Design dan Karya Seni

Tahun 2017 saya memulai karir sebagai 2d Artist di sebuah game studio di Jogja. Sebagai 2d Artist saya bertanggung jawab untuk membuat illustrasi, concept art dan kadang-kadang user interface dari sebuah game. Di saat itu profesi UX designer mulai booming berbarengan dengan banyak nya tech startup yang tumbuh pesat di Indonesia.

Di tahun 2019 saya mendapat kesempatan untuk menjadi UI/UX Designer di Santara. Ketika masuk ke dunia UX design ada beberapa hal yang membuat saya kaget. Dalam UX kita harus menyesuaikan kebutuhan user. Kita mendesain sepenuhnya untuk user. Dalam concept art pun kita membuat illustrasi sesuai kebutuhan user atau client namun kita masih bisa menyematkan idealisme kita disana. Semakin unik dan baru sebuah concept art semakin bagus. Berbeda dengan UX desain, semakin unik dan baru desain kita, justru semakin buruk karena user expect something familiar buat experience mereka.

Beberapa bulan pertama saya merasa idealisme saya sebagai seorang seniman tidak bisa tersalurkan. Selain itu penilaian desain dinilai sepenuhnya dari nilai konversi dan berbagai macam grafik yang ada di analytic. Ini kerjaan desain atau marketing sih?

Jadi UX Design itu art or science sih?

Walaupun beberapa masalah diatas, dari googling yang saya lakukan sebenernya expected. UX Design is not an art. UX design yang bagus dibangun dari research. UX Design juga bisa dinilai dengan angka. Namun naif nya saya masih merasa “Design” apapun jenisnya (Graphic Design, UX Design etc) itu sebuah seni.

Apa yang membuat design bukan “Art” atau Karya Seni? Karya seni tidak mempunyai boundaries atau aturan. Karya seni murni ekspresi diri. Karya seni dibangun dari pandangan pribadi sang seniman. Bisa dari keresahannya, pandangannya, imajinasinya apapun itu.

Sedangkan design terutama UX design memiliki berbagai macam aturan atau ruang lingkup yang membatasi. Dalam desain pun kita memiliki goal yang clear (Misal : menaikan conversion rate, menaikan awareness brand). Desain memiliki goal kolektif bukan pandangan pribadi selayaknya karya seni.

Bias menjadi salah satu alasan terbesar kenapa UX design bukan karya seni. Menjadi UX designer kita dilatih untuk membuang asumsi. Semua keputusan design ideal nya diambil berdasar kan data dan feedback.

Desain terbaikmu yang mendapat banyak like di dribbble tidak berarti jika user kebingungan dalam bernavigasi di platform yang kamu desain.

Jika dalam karya seni penikmat “dipaksa” memahami pemikiran sang seniman. UX designer tidak memiliki privillege tersebut. Justru sebaliknya, kita sebagai UX Designer “dipaksa” untuk memahami user. It’s all about user!

Jadi, jika kamu ingin memulai karir sebagai designer terutama UX designer. Buang jauh-jauh ekspektasi bahwa kamu akan menciptakan karya seni masterpiece. Kamu harus siap membuang idealisme mu sebagai seorang artist.

--

--

See my user interface design portfolio here : https://dribbble.com/listyantyo

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store